Pages

Selasa, 05 September 2023

Alquran / 4. surah an-nisa/ hlm11

Bismillah, pada kesempatan sebelumnya kita sudah sama-sama mendengar, membahas daripada perkataan Abdullah Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, dimana beliau berkata ( innafi shuratinnisa' laa khromsha ayatin maa yashurruni AnnaLi bihaddunya wama fiha ) bahwa dalam surat an-nisa  ada lima ayat yang sangat menggembirakan kepadaku, 

1. 
2. 
3. Dan kemudian sekarang ayat yang ke 3, 

Artinya adalah sesungguhnya Allah tidak mengampuni bahwa dia disekutukan, dan allah mengampuni selain yang demikian itu bagi orang-orang yang ia kehendaki,

dan barangsiapa yang menyekutukan Allah maka dia sungguh melakukan satu dosa yang sangat besar, nah ini yang ke 3 yang di kehendaki Ibnu Mas'ud daripada 5 ayat tersebut,

ayat ini menerangkan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa yang namanya ( syirqunbillah ) 

Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan Allah,
dan allah hanya mengampuni selain yang demikian bagi orang yang Allah kehendaki

Nah ini maksudnya bahwa dosa syirik itu ..
Allah hanya memberikan ampunan kalau kita kembali mengesakan Allah, atau masuk Islam, 

bila orang musrik itu tidak masuk Islam maka dia tidak akan mendapatkan ampunan daripada Allah, baik dia minta ampun apalagi tidak minta ampun, 

selain daripada dosa syirik, itu ada harapan akan di ampunan Allah kepada orang yang Allah kehendaki  walaupun itu dosanya besar, walaupun orang yang melakukan dosa tersebut tidak tobat tidak minta ampun kepada Allah subhanahu wa ta'ala, 

contohnya seperti perzinahan, mencuri, minum arak, membunuh orang, nah walaupun orang ini tidak sempat minta ampun kepada Allah bisa saja Allah mengampuni, mungkin aja dapat ampunan daripada Allah, tapi dengan catatan bagi orang-orang yang Allah kehendaki, Adapun lebih baiknya kita bertaubat lah kepada Allah, 

Akan tetapi kalau dosa syirik nah ini berat, Allah akan menutup pintu ampunan sama sekali, nah perkara demikian ini musti kita lebih berhati-hati 

imam Ibnu hajar al-haitami mengatakan setiap muslim dan muslimah wajib mengetahui apa yang di maksudkan dengan dosa syirik itu dan macam apa yang di sebut dengan ( syirqunbillah)


Nah para ulama menjelaskan pengertian syirik kepada Allah itu ( ayyak' buda ghroirallah ) dia menyembah selain Allah, 

contohnya menyembah sapi, menyembah gunung, menyembah pohon, menyembah matahari, bulan, menyembah guru, menyembah nabi, menyembah patung, menyembah selain Allah subhanahu wa ta'ala, nah ini syirik, 

Nah pengertian menyembah itu apa? Pengertian menyembah itu adalah mengakui ketuhanan orang yang di sembah, 

contohnya kita ni patuh dengan seseorang, kita ni tunduk kepada seseorang, tapi kita tidak mengakui bahwa ianya ini adalah tuhan berarti itu bukan menyembah namanya,

tapi kalau kita patuh pada seseorang, kita hormat dia, kita muliakan dia, terus kita akui dia ini adalah tuhan, nah ini menyembah namanya, 

jadi syirik itu yang pertama adalah ( ayyakbuda ghroirallah) dia menyembah selain Allah artinya menuhankan selain Allah, 

( aw yakbuda ghroirallah, ma'allah ) 
atau dia menyembah selain Allah beserta Allah, 
nah ini syirik juga, 

contohnya Allah di sembahnya nabi di sembahnya, Allah di sembahnya matahari pun di sembahnya, Allah di sembahnya berhalapun di sembahnya, nah ini termasuk syirik ( syirqunbillah) 

Contohnya seperti orang-orang kafir Quraisy, mereka di tanya siapa yang menciptakan kalian, orang kafir Quraisy mengatakan Allah, orang kafir Quraisy mengakui bahwa yang menciptakan mereka adalah Allah,

lalu di tanya kepada mereka kalau Allah yang menciptakan kalian, kenapa kalian menyembah berhala, mereka menjawab ( maa nakbuduhum Illa liyuqarribuna illallahi zulfa ) kami tidak menyembah berhala itu melainkan hanya untuk mendekatkan diri kami kepada Allah, nah jadi mereka menyembah berhala untuk mendekatkan diri kepada Allah, jadi mereka ini bertuhan kepada Allah dan bertuhan kepada berhala, nah ini syirik namanya 

( Aw yak takidata 'asirol asbab ma'allahi ta'ala ) 
atau mengiktikatkan memberi bekasnya sebab beserta Allah ta'ala, itu dia me iktikatkan meyakinkan di dalam hati yang memberikan bekasnya sebab beserta Allah,

contohnya kenyang, itu dengan sebabnya makan, jadi yang memberikan kenyang itu ujarnya Karna aku makan dan karena Allah, nah ini termasuk ( syirqunbillah)

adalagi macam obat, yang menyembuhkan ku ini ujarnya obat beserta Allah ta'ala, nah sebab di jadikannya kawan Allah untuk menyembuhkan, makanan di jadikannya bersama Allah untuk kenyang nah ini termasuk syirik juga namanya ( syirqunbillah) 

Padahal iktikad yang benar adalah yang mengenyangkan itu adalah Allah dan Allah pun mampu mengenyangkan kita tanpa nasi, tanpa makan, itu yang benar, dan tidak ada satupun juga sebab yang memberikan bekas, karena semuanya itu ( musabbibul asbab Allah ta'ala ) nah itu adalah iktikad tauhid kita, 

kalau kita mengiktikatkan bahwa sebab itu memberikan bekas beserta Allah maka itu syirik dosa yang tak terampuni, 

( aw yaaz'ala lillahi Niddaa' ) atau dia menjadikan bagi Allah itu ada sesamaannya, ada tandingannya 

( aw walada' ) atau dia menjadikan bagi Allah itu anak,
( aw zauzatan ) atau Allah punya istri,nah ini
(syirqunbillah)

( aw yushifullah bi shifhatin laayalighubihi ) atau mensifatkan Allah dengan sifat yang tidak patut, yang tidak layak bagi Allah, semisal Allah berhajat kepada makhluknya, Allah memerlukan kepada hambanya, nah ini iktikad demikian yang akan menyebabkan kita syirik
Ni
Dan juga termasuk daripada syirik ( azzmuzz syirik ) mencita-citakan syirik, contohnya nanti bulan depan aku hendak menyembah berhala, mencita-citakan, nah sejak detik itu dia sudah syirik, 

( warridho bissyirik ..syirkun ) Rida dengan syirik, nah ini syirik juga artinya kita senang lihat orang yang menyembah berhala, senang melihat orang menyembah matahari, menyenangi itu perbuatan-perbuatan syirik adalah syirik, 

contohnya ada kawan kita ni orang yang menyembah berhala, kemudian kita mengatakan kepada, tak usah lah masuk Islam, sembah aja berhala itu, sama aja itu, nah ini syirik, karena apa? Merestui dengan perbuatannya itu

bahkan imam Ibnu hajar mengatakan kalau kita sedang makan, atau kita sedang berkhutbah, tiba-tiba datang ada orang musrik hendak masuk Islam, dan ingin meminta tolong kepada kita, namun kita menjawab tunggu dulu aku selesai makan, tunggu dulu aku selesai berkhutbah, nah kita ni jadi musrik 

sebabnya apa,? 
karena kita Rida, kita setuju pada dirinya menjadi musyrik beberapa saat yang dia menunggu kita itu, 

Jadi kalau ada orang yang hendak masuk Islam meminta tolong k byepada kita, kalau kita ni sedang makan maka langsung berhenti dan ajarkan dia mengucapkan dua kalimat syahadat, islamkan langsung pada saat itu 

jangan kita berani menunda-nunda, karena apabila kita melakukan demikian berarti kita ni yang akan jadi musrik Karna apa? karena kita Rida dengan keadaannya beberapa saat menunggu kita itu 

Dan Termasuk musrik juga adalah berani mengatakan orang yang bertauhid itu musrik, 

contohnya orang yang bertauhid, orang yang mengesakan Allah, orang yang beriman kepada Allah, orang yang mengiktikatkan tidak ada yang bisa memberikan bekas itu hanya Allah, di katakan ya musrik, 
nah dirinya itu yang musrik sebenarnya 

Mendakwai, memanggil, menggelar orang mukmin sebagai musyrik nah berarti kita yang musyrik, mengatakan orang mukmin itu kafir berarti dirinya sendiri yang kafir, 

Oleh karena itu kita di tuntut kehati-hatian yang sangat besar dalam oleh agama kita dalam masalah ini, jangan berani sampai mengatakan orang mukmin itu kafir, mengatakan orang itu Yahudi, jangan berani mengatakan demikian apalagi kita belum tau pasti dia itu seperti apa,

apalagi orang yang di katakannnya itu orang-orang yang jelas beriman kepada allah, malah di katakan musrik, di katakannnya Yahudi, maka akan kembali perkataan itu kepada dirinya sendiri

Oleh karena itu kita tidak akan pernah sepakat, tidak akan pernah setuju dengan kelompok orang-orang yang suka mengata-ngatai syirik, contoh mereka-merrka yang mengatakan orang yang bertawassul kepada Rasulullah syirik, orang bertawassul kepada para Auliya-aulia Allah syirik, orang yang memanggil ya Rasulullah aghisnaa )
Ya rasulallah tolong kami, syirik katanya, nah kita tidak sepakat dengan kelompok yang terlalu mudah mengatakan sesuatu yang demikian itu syirik, 

padahal syirik ini adalah perkara yang sangat besar, bilamana asal-asalan membilang orang syirik maka akan kembali kepada orang yang mengatakan itu, 

Karena orang yang bertawassul itu tidak menyembah siapa yang ia tawassulkan, tidak pula menuhankan orang yang itu, mereka yang bertawassul itu tetap mengiktikatkan di dalam hatinya bahwa yang memberikan bekas itu hanya satu yakni Allah subhanahu wa ta'ala, 

Maka demikian lah dosa syirik itu, sehingga dosa syirik ini sangat berbahaya, Allah pun tidak akan mengampuni dosa orang-orang yang melakukan syirik ini, kecuali dia benar-benar kembali mengesakan Allah subhanahu wa ta'ala 

Kemudian yang ke 4
Firman Allah di dalam surat an-nisa ayat 64 
Nah ini ayat ujar Ibnu Mas'ud adalah salah satu ayat yang sangat menyenangkan hatiku,

artinya ( walau annahum izzolamu anfisahum ) jikalau mereka itu berbuat dzolim akan diri mereka maksud berbuat dosa, berbuat maksiat,

( zaa uukaa ) mereka datang kepada engkau wahai Muhammad ( pastaghrfirullah ) ( wastaghrfara lahumurrasulu ) dan mereka meminta ampun kepada Allah dan memintakan ampun bagi mereka oleh Rasulullah, ( wala zadullaha tawwabarrahima )  maka Allah pasti menerima taubatnya dan Allah pasti akan menyayanginya 

Jadi kalau kita ini bagaimanapun besarnya dosa yang kita lakukan kemudian kita minta ampun kepada Allah, kita datang kepada Rasulullah, kita minta Rasulullah mendoahkan kita memintakan supaya Allah mengampuni dosa kita, maka Allah pasti akan mengampuni kita, seberat apapun dosa kita, 

jadi ini lah kenyamanan orang yang hidup di zaman Baginda Rasulullah, mereka berbuat dosa, kemudian mereka bertaubat meminta ampun kepada Allah, datang kepada Rasulullah, kalau sudah Rasulullah memintakan ampunan kepada Allah atas dosa kita pasti di ampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala, 

jadi ada orang bertanya apakah itu berlaku hanya pada saat di zaman Baginda Rasulullah masih hidup? Maka para ulama ahli Sunnah waljama'ah menjawab itu berlalu sampai kapanpun, artinya tetap berlaku 

Nah di kisahkan dalam satu hikayat, di dalam kitab tafsir Ibnu kasir, kisah ini di muat oleh beliau, ada salah seorang ulama besar yang bernama imam Al uthbi, Al uthbi ini adalah salah seorang guru daripada Al imam assyafi'i, radiallahu anh

imam Al uthbi ini, beliau bercerita sewaktu berziarah ke makam Baginda Rasulullah, duduk disitu, tiba-tiba datang seorang laki-laki kemakan Rasulullah itu, kemudian laki-laki itu berkata 

( assalamualaika ya rasulallah, innallaha ta'ala yaakul ) 

ya Rasulullah , nah ini Baginda Rasulullah sudah wafat, makamnya di datangi, ya rasulullah Allah berfirman siapa-siapa yang berbuat dzolim, dia datang kepada engkau, dia minta ampun kepada Allah, dan engkau wahai Rasul memintakan ampun baginya kepada Allah, mqka Allah menerima taubatnya, Allah memberikan ampunan kepadanya, 

aku hendak minta ampun kepada engkau ya Allah, kalau engkau ampunkan aku, maka akan membuatkan Baginda Rasulullah bahagia, dan membuatkan syaitan itu kecewa, jika engkau tidak mengampunkan aku, akan membuat Rasulullah sedih, dan membuatkan syaitan itu gembira

Lalu ujar si laki-laki tadi ( waakod jiktuka musstaghfiran lizanbih, Musstassh fi'an bikaa ila Robbi ) aku datang ke makam engkau ini wahai Rasulullah hendak minta ampun untuk dosa-dosa ku dan aku minta syafaat engkau, agar engkau memintakan ampun kepada Allah subhanahu wa ta'ala, lalu seorang laki-laki tadi bersyair di makan Rasulullah

( Yaa khroira man dhufinat, bil Qoo'i A'jumuhu, fadhoba min twiy bihinal qoo'u Wal 'Akamu, nafsil bida Li qobrin anta shaqinuhu, fihil 'afafu, wafihil judu Wal kharam ) setelah itu laki-laki tadi pun pergi, 

lalu ujar imam Al uthbi tadi beliau tertidur di samping makam Baginda Rasulullah, di dalam tidurku aku bermimpi di temui Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dalam mimpi itu Rasulullah mengatakan( ya uthbi )

 wahai uthbi, cari laki-laki tadi dan kabarkan kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya nah ini orang yang datang ke makam Baginda Rasulullah minta syafa'at untuk di mintakan ampun kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Maka orang-orang yang diberikan kelebihan oleh Allah subhanahu wa ta'ala bisa sampai dirinya ke makam Rasulullah maka perbanyaklah minta ampun kepada Allah, agar dosa-dosa kita di ampunkan oleh Allah 

Kemudian ayat yang ke 5
Siapa yang berbuat jahat, beramal jahat, atau dia mendzolimi dirinya, menganiaya dirinya sendiri, artinya berbuat dosa, kemudian dia minta ampun kepada Allah, bertaubat kepada Allah, maka akan Allah ampuni dosanya, karena Allah adalah maha mengampun dan maha penyayang,

jadi kalau bagi kita ini yang ada disini, di kampung-kampung orang yang pas-pasan yang tak bisa ke makam Baginda Rasulullah, yang tidak hidup di zaman Baginda Rasulullah, untuk memintakan ampun atas dosa kita kepada Allah, nah kita disini pun kalau kita benar-benar bertaubat kepada Allah, baik-baik meminta ampun kepada Allah atas segala dosa 
( yazidillah ghrofururrohima ) maka akan kita dapatkan Allah itu adalah maha pengampun dan maha penyayang 

Nah jadi lima ayat ini ujar Ibnu Mas'ud lebih aku sukai daripada dunia dan seluruh isinya 


------------


Jadi surat an-nisa ini adalah surat yang ke 4 daripada surat Alquran, dan ayatnya berjumlah 176 ayat, ayat yang pertama : 

Hai manusia, ( ittaqu robbakum ) takwalah kamu kepada Allah, junjunglah perintahnya, jauhi larangannya, 

Allah itu ( Alladzi rolakokum minnafsiwwahidah )
yang menciptakan kamu dari satu diri yaitu nabi Adam alayhissalam,

kita di suruh takwa, kita di suruh menjunjung perintah, kita di suruh menjauhi larangan, ini peringatan bentuk perintah langsung daripada orang yang menciptakan kita, disini Allah subhanahu wa ta'ala mengajak kita bertakwa dengan dorongan, takwalah kamu kepada orang yang menciptakan kamu 

Dari satu diri ( nafsiwwahidah ) nabi Adam alayhissalam 

( wakhrolaqo minta zauzaha ) dan Allah menciptakan daripada diri yang satu itu ( daripada Adam itu ) zauzaha istrinya, 

banyak hadist yang menyebutkan tentang kisah ini bahwa nabi Adam apabila di dalam syurga sendirian, lalu nabi Adam tertidur, begitu nabi Adam tertidur, Allah perintahkan malaikat untuk mengambil tulang rusuk kiri nabi Adam lalu di jadikan seorang perempuan yang bernama hawa ini

( wakhrolaqo minha zauzaha ) Allah ciptakan dari nabi Adam pasangannya, nah ayat ini menunjukkan bahwa perempuan itu dibikin di cipta oleh Allah dari bagian tubuh laki-laki, 

ini salah satu sebab kenapa Allah memerintahkan perempuan itu musti berada di bawah komando, di bawah pengawasannya laki-laki, karena kejadian perempuan itu bagian daripada tubuhnya laki-laki
jangan di balik, 
( wakhrolaqo minha zauzaha

( wa bassha minhuma rizalan kasiran wa Nisa an ) dan Allah tebarkan daripada Adam dan hawa itu laki-laki dan perempuan yang banyak, sehingga nabi Adam dan hawa ini melahirkan keturunan-keturunan yang banyak,

menurut sebahagian ahli sejarah di dalam bermacam-macam kitab tafsir di sebutkan bahwa bahwa Siti hawa itu 20xhamil, setiap kali hamil itu pasti kembar, cuman seorang yang tidak berpasangan, yaitu yang bernama sis, kenapa lahir seorangan saja karena menggantikan Habil yang di bunuh Kabil, lalu di gantinya oleh sis, sis ini lahir tidak kembar dan sis inilah nabi di antara anak-anak Adam alayhissalam itu 

Dari nabi sis inilah nantinya silsilah keturunan nabi Idris, nabi Nuh, nabi Ibrahim, sampai lah ke nabi nabi berikutnya, semuaannya itu adalah dari anak nabi Adam ini
 (wa bassha minhuma rizalan kasiran wa Nisa an)

Awal pula penciptaan manusia di rahim itu 
( an Abi Abdurrahman abdilllah Ibnu Mas'ud Radhiyallahu ta'ala Anhu kol ) 

( 'an Abi abdirrahman abdillah ibni Mas'ud Radhiyallahu ta'ala Anhu kol, haddasana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam wahuwaa sho diqul mas duq, koola innaa ahadakum yujma'uu khrolkuhuu fi bat thoni ummihi 'arba'ina yauman nuftah, 

( Summa yakunu 'ala qhotan mislaa Zalik, summa yakunu mudrotan mislaa Zalik, Summa yursalu ilaihil malak, payan furhu fihirruh, wayukmaru Bi 'arba'in kalimat, bikatbi rizqihi, wa azalihi, wa 'amalihi, wa shaqiuyyun am Sa'id, fa wallahulladzi la Ilaha groyruhu Inna ahadakum layakmalu bi'amali ahlil Jannah, Hatta maayakunu bainahu wa bainaha, Illa dirok.

( Fayasbiqqu, 'alaihiil kitab, fayakmalu bi'amali ahlinnar, fayadgruluha, wa Inna ahadakum layakmalu bi'amali ahlinnar, Hatta maayakunu bainahu wa bainaha Illa dirok,
Fayasbiqqu 'alaihiil kitab fayakmalu bi'amali ahlil Jannati, fayadgruluha., ( rowahul Buhari wa muslim ) 




Dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas'ud, beliau berkata, telah menghadiskan kepada kami, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, beliau Rasulullah adalah orang yang benar dan di benarkan, beliau bersabda 

( ahadakum yujma'uu khrolkuhuu fi bat thoni ummihi 'arba'ina yauman nuftah )

Sesungguhnya salah seorang kamu di himpunkan kejadiannya di dalam rahim ibunya 40 hari berupa Nutfah, itulah asal muasal kejadian manusia, yang di mana di situ bercampur antara Nutfahnya laki-laki dan perempuan dan masuk kepada rahim ibu, begitu sampai dalam rahim ibu, maka Allah pun memerintahkan malaikat untuk mengambil sedikit tanah 

Yang tanah itu nanti mengisyaratkan bahwa ianya nanti ketika wafat akan di kuburkan kedalam tanah itu, maka di ambillah sedikit tanah tadi lalu di taburkan di air Nutfah yang ada di rahim ibu 

(Summa yakunu 'ala qhotan mislaa Zalik)
Lalu Kemudian jadilah ia segumpal darah selama 40 hari jua, 

( Summa yakunu mudrotan misla Halik ) 
Kemudian jadilah segumpal daging 40 hari pula, nah jadi itulah peroses awal kejadian kita, 3 kali 40 hari, 

1. 40 hari pertama berupa nuftah
2. 40 hari kedua berupa darah
3. 40 hari ketiga berupa segumpal daging 

( ثُمَّ يُرْسَلُ إلَيْهِ الْمَلَكُ ) 
Kemudian di utus kepadanya malaikat 
( فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ )
Maka malaikat itu di perintahkan Allah untuk meniupkan ruh pada janin yang ada di dalam rahim tadi sesudah berumur 4bulan 

Nah maka mulai itulah di janin ini bergerak dan mulai hidup di dalam rahim ibunya, nah apa yang kita baca tadi banyak menimbulkan hikmah, banyak menimbulkan ilmu-ilmu baik ilmu fiqih ataupun ilmu tasawuf

Di dalam fiqih contohnya, bagaimana kalau seseorang perempuan itu mengandung, kemudian keguguran kandungannya, maka bagaimana ini kandungan di perlakukan

Maka ahli fiqih, menjelaskan, tergantung bagaimana bentuknya keguguran itu, maka lahirlah 4 hukum tentang masalah perempuan yang keguguran tadi

1. Kegugurannya berupa mudghah, berupa segumpal daging, maka di kuburkan, kalau pun tidak, tidak apa-apa
2. Bilamana keguguran itu umurnya belum 4 bulan tapi sudah berbentuk, itu di kafankan kemudian di kuburkan, itu wajib
3. Sesudah umur 4 bulan keguguran, dan tidak ada tanda-tanda hidup, nah ini cukup di mandikan, di kafankan lalu di kuburkan, wajib
4. Bilamana sesudah 4 bulan dia keguguran, dan ada tanda-tanda bahwa ianya sudah hidup, nah ini diperlakukan sama seperti orang biasa yang wafat, 

Kemudian dalam masalah tasawufpun ada melahirkan ilmu daripada ini hadist bahwa ketika di kisahkan kejadian manusia itu 40 hari , 40 hari, 40 hari, artinya apa itu adalah tahapan-tahapan untuk mencapai kesempurnaan, maka demikian pula untuk menjalani jalan makrifat kepada Allah 

Itupun di perlukan tahapan-tahapan sehingga dia bisa Musyahadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala, Karna kalau kita ni orang awam begitu lahir tidak bisa langsung Musyahadah kepada Allah, musti adanya tahapan-tahapan yang kita lalui sehingga sampai kepada Musyahadah itu 

Mulai daripada musyaraqah, lalu muraqabah, lalu muhasabah, mu'aqabah, lalu mujahadah, lalu ada lagi muhadarah, habis itu ada lagi muqasafah, dan sampailah kepada Musyahadah, 

Maka tidak bisa kita langsung sampai kepada Allah, karena mulai daripada kita di ciptakan pun ada tahapan-tahapannya sebagaimana yang sudah di hadistkan oleh Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tadi 

Kemudian lagi dari segi ilmu fiqih bagaimana hukumnya seseorang yang menggugurkan kandungan yang sudah hidup bayinya, inipun di ambil dari hadist ini juga, ini jelas sudah dosa besar, 

tidak ada khilafnya lagi ulama itu, seluruh ulama sepakat bahwa yang demikian itu sudah termasuk dosa besar, termasuk pembunuhan namanya, 

Sebagaimana yang sudah di riwayatkan dalam sebuah hadist 
 
( Anna sikke ta, yakti yaumal kiyamah, yastagrishu, wayunaadhi,  annal mazdlum, fayataa 'allaku bi ummi, wayakunu ya Robbi, shal hazihi lima kataltani, 
fayakulullaha ta'ala, lima katalti, Wakhod harramtu khod lam nafhsi bi ghroiril haq, 

Ya mala ikati, salli muhaa, Li Malik, khrozzi minnar, yahbisu fi zabbil zubbil ahzan, fatugroyyi yabuha ila ulukihaa wayud dhoouuu, tho uk, Wa silsilatuu fihi, 
watus habu ilannar, fayar Miha Malik fi zubbil ahzan

Bahwa anak yang di gugur kan itu pada hari kiamat akan minta tolong dan berteriak, ( annal mazdlum) aku lah orang yang di dzolim, maka ia bergantung kepada ibunya

Dan berkata dia, hai Tuhanku, tanya ini perempuan kenapa dia bunuh aku, Allah berfirman, kenapa engkau bunuh dia wahai perempuan, padahal aku telah mengharamkan pembunuhan itu 

Wahai malaikat ku, serahkan ini perempuan kepada Malik, penjaga api neraka, agar si Malik ini menahan itu perempuan di dalam neraka yang bernama zubbil ahzan

Maka di di belenggu tangan perempuan tadi ke lehernya, di letakkan kalung dan rantai ke lehernya dan di campakkan ke dalam api neraka, yang bernama zubbil ahzan tadi, nah ini zubbil ahzan nama Bagian daripada neraka yang di situ banyak binatang buas yang berbisa, dan di sana juga ada malaikat jabaniyah, yang di tangan mereka ada tongkat-tongkat, ada tombak-tombak daripada neraka yang menusuk akan orang-orang yang melakukan pembunuhan di dalam dunia

Nah itulah ancaman Allah kepada perempuan yang menggugurkan kandungan yang sudah hidup, terkecuali ada hal yang di bolehkan syariat dalam masalah ini
 adanya alasan-alasan tertentu 

Nah kalau kandungannya yang belum hidup, belum lagi di tiupkan ruh, nah ini ulama fiqih terjadi perbedaan pendapat, ada yang mengatakan boleh ada yang mengatakan tidak boleh, tentunya dengan alasan - alasan tertentu boleh yang namanya di gugurkan

Jadi ketika malaikat datang meniupkan ruh di ubun ubunnya lalu hiduplah bayi di dalam perut tadi,

وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

Malaikat itu pun di perintahkan oleh Allah untuk menulis, dimana menulis, di antara kedua matanya, apa yang di tulis? Rezekinya, umurnya, amalnya baik atau buruk, dan orang ini celaka di akhirat atau beruntung di akhirat

Ini hadist oleh para ulama di jadikan satu nasihat, satu pedoman kepada kita di dalam hidup : 

1. Adamul ham birriziq, tiada risau dengan Rezki, kenapa? Karena sudah di tulis oleh malaikat, dan sudah di tentukan oleh Allah, banyak atau sedikit, bagaimanapun kita pintarnya berusaha, bagaimanapun kita hebatnya berusaha maka tidak akan melebihi daripada apa yang sudah di takdirkan oleh Allah,

Bagaimanapun kita santainya, biasa-biasa saja maka tidak akan mengurangi daripada apa-apa yang sudah di takdirkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala 

( Ma koddarallahu Laka fahuwa yasiru ilaik 
( Bi sababin au jadahu lak, 
( wama lay yukoddirulaka fala yaksiru ilaik) 

Sesuatu rezeki yang sudah di takdirkan Allah kepada engkau pasti akan sampai kepada engkau, dan Allah akan menciptakan caranya untuk engkau mendapatkan rezeki itu, jadi kita tidak perlu risau, maka silahkanlah kita berusaha dan serahkan semuanya kepada Allah 

2. Di tulis kita ini celaka atau beruntung di akhirat, nah ini maksudnya, memberikan kepada kita satu nasihat,  
( Adamul Farah bissay'ik, malam yaklam annahu Sa'id FIL akhirah ) tiada gembira dengan sesuatu apa juapun di dalam hati kita selama kita belum tau apakah kita ini beruntung apa tidak di akhirat nanti, 

apapun yang kita miliki sekarang di dunia, kita ni jangan terlalu gembira, karena kegembiraan yang sesungguhnya itu ketika kita tahu di akhirat nanti kita ini menjadi orang yang beruntung, maka di anjurkan untuk kita selalu berhati-hati dalam hidup kita, dan senantiasa meminta kepada Allah semoga di selamat baik dunia maupun akhirat

. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

Sesungguhnya salah seorang daripada kamu beramal dengan amalan ahli surga, sehingga tidak ada jarak antaranya itu daripada surga kecuali satu hasta, artinya kalau ini orang mati masuk surga, akan tetapi terdahulu akan ketentuan Allah bahwa ini orang matinya nanti mati dengan amalan ahli neraka maka ia akan masuk neraka 

Pada zaman dahulu pernah di cerita Baginda Rasulullah sewaktu peperangan bersama para sahabat, di antara prajurit Rasulullah ini ada laki-laki yang sangat berani, membunuh begitu banyak orang-orang kafir sewaktu perang, ada sahabat yang menyampaikan kepada Rasulullah, wahai Rasulullah lihat itu kawan kita sangat berani melawan orang kafir, banyak musuh sudah di bunuhnya

Maka Rasulullah pun bersabda ( Huwa finnar ) dia mati nanti ke neraka, nah sahabat ini ketika mendengarkan jawaban Rasulullah ianya terkejut, kenapa kawan kita ni yang sangat berani, yang subuh begitu banyak menumbangkan musuh malah dia masuk neraka 

Lalu sahabat ini mengiringi laki-laki tadi, akhirnya apa? Laki-laki tadi di tombak oleh musuh, kemudian tumbang, setelah itu laki-laki tadi tidak tahan menahan kesakitan di tombak, lalu dia mengambil pedangnya kemudian di tusukkannya kepada dirinya akhirnya dia mati dengan cara bunuh diri, 

Nah ini hikmahnya bagi kita apa? Kita jangan sekalipun memegang apa yang telah kita amalkan, jangan kita sekali-kali berani berpijak pada ibadah kita itu, lalu kita merasa sombong dan lupa kepada Allah,

( padahal kita bisa melakukan amalan, kita bisa melakukan ibadah itu semata-mata hanya karna bantuan Allah, Karna pertolongan Allah, Karna di mampukan Allah, nah maka hati kita ini pun selalu berpegang kepada Allah, kitapun memohon kepada Allah, kitapun berterima kepada Allah subhanahu wa ta'ala) 

، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Sesungguhnya salah seorang daripada kamu beramal dengan amalan ahli neraka, orang ni sepanjang hidupnya minum arak, berzina, membunuh orang, sehingga jaraknya dengan neraka tinggal sehasta lagi, artinya kalau ia mati masuk neraka, Namun dalam takdir Allah ini orang nanti akan masuk syurga, maka begitu akhir hayatnya dia pun bertaubat kepada Allah dan Allah pun menerima taubat dan iapun mati masuk syurga

Nah ini apa hikmahnya kepada kita, bahwa jangan kita merasa lebih baik daripada orang lain, dan jangan pernah kita berputus asa daripada Rahmat serta ampunan Allah subhanahu wa ta'ala karena ampunan dan Rahmat Allah itu sangat luas, maka bersungguh-sungguh lah kita menyambut pertolongan Allah itu

( wattaqullah ) dan kemudian Allah menyuruh takwa pula, junjunglah perintah Allah, jauhi larangan Allah,

kalau tadi Allah mengatakan takwalah kamu kepada tuhan yang menciptakan dirimu, nah sekarang ini lain lagi, takwalah kamu kepada tuhan yang kamu itu sering minta-minta kepadanya, ( allazi tasaa alun )

nah ini sudah jelas, kita ni hanya minta kepada Allah,
 ( allazi tasaa alun ) yang kamu itu sering minta-minta kepadanya ( Wal Arham ) takutlah kamu memutus hubungan keluarga

Jadi ayat yang satu ini banyak sekali memberikan petunjuk, pelajaran dan sumber-sumber daripada hukum Allah subhanahu wa ta'ala, seperti bertakwa kepada Allah, menjunjung tinggi perintah Allah, menjauhi dari larangan Allah 

dan takutlah kamu kepada perbuatan memutus hubungan keluarga, memutus hubungan silaturrahim, pengertian silaturrahim ini sangat terlalu luas seperti apa

Apa itu hubungan silaturrahim ? Apa itu rahim? Nah seperti apa itu memutus hubungan silaturrahim?

Nah apa arti rahim itu?
menurut pendapat para ulama yang kuat adalah rahim itu artinya keluarga, baik pihak ayah, baik pihak mamak, baik sepupu ataupun selebihnya, baik yang boleh nikah sama kita atau yang tidak boleh, pokoknya kalau ada hubungan keluarga dengan kita, nah itu namanya rahim

Dan kemudian apa pengertian memutus silaturrahim itu? Para ulama mengatakan memutus hubungan silaturrahim itu ada dua macamnya 
1. Berbuat jahat kepada keluarga, bebarti sudah termasik memutus silaturrahim
2. Tidak berbuat baik kepada keluarga, memutus silaturrahim juga namanya

Makin dekat hubungan keluarga itu dengan kita maka makin parah dosa yang akan kita terima, bila kita putuskan 

contohnya keluarga yang paling dekat sama kita adalah orangtua kita, babah dan mamak kita, nah apabila kita memutuskan hubungan kepada dua ini, artinya kita berbuat jahat kepada orangtua, kita tidak Mahu berbuat baik kepada orangtua, maka paling besar dosanya, 

Contohnya, kita ni suka memberikan hadiah, memberikan sodakoh, orang lain di beri duit, keluarga tidak di beri, macam zakat, orang lain di beri zakat, tapi sepupu, keluarga, tidak di beri zakat, padahal mereka ini termasuk orang-orang yang berhak menerima zakat, 

Sehingga ancaman daripada orang-orang yang memutuskan hubungan keluarga ini sangat besar


Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda 
(innarrah mata la tanzilu 
ala qow min fihim qotiburrohim) 
Rahmat Allah tidak turun atas satu kaum yang di situ ada orang yang memutus tali silaturrahim, apalagi orangnya, maka di khawatirkan tidak mendapatkan Rahmat daripada Allah subhanahu wa ta'ala, contohnya sama keluarga sendiri bermusuhan, dan lain sebagainya

Abdullah bin Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu: 
beliau ini kalau hendak ceramah agama dalam suatu majlis, maka beliau akan bertanya kepada mereka yang hadir itu, adakah disini orang yang memutus hubungan keluarga, apabila ada, mohon keluarga dahulu, meminta maaf, berbaik-baikan dahulu kemudian baru datang kesini, 

Sebab ujar beliau Rahmat tidak akan turun kepada kita kalau di tengah-tengah kita ada orang yang 
( qoti'u rrahim ini) orang yang memutus hubungan keluarga, ( innarrahmata la tanzilu ala qow minfihim qotiburrohim ) 

Imam Ali Zaenal Abidin berwasiat kepada anaknya Muhammad albakhir, ( laa tusshoohib, qoti 'aa Rohim ) engkau jangan berkawan dengan orang yang memutus hubungan keluarga, karena aku dapati orang yang memutus hubungan keluarga itu di laknat Allah di dalam Alquran beberapa kali,

dan termasuk juga memutus hubungan keluarga adalah, apa yang sudah di sabdakan Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ( man zawwaza karimatahu min fasikin, fakodda kata 'a Rohimaha ) 

siapa-siapa yang mengawinkan putrinya dengan orang fasik, artinya orang yang mengekali dosanya dan tidak mau bertaubat kepada Allah, berarti dia sedang memutus hubungan keluarga, orang yang macam apa ini ? Orang yang mencari rezeki dengan cara yang haram, orang yang suka melakukan riba, orang yang suka minum arak, orang yang korupsi, orang yang suka berzina dan lain sebagainya, 

nah bila kita mengawinkan anak perempuan kita dengan orang tersebut berarti kita sedang memutus hubungan silaturrahim, 

Macam kita ini sebagai orang tua, kita punya anak perempuan, kita musti lihat dulu, sebab kalau kita menerima lamaran daripada orang-orang yang demikian itu yang selalu menganggap remeh prihal dosa, yang mencari harta dengan cara yang haram, suka melakukan perbuatan-perbuatan dosa, nah ini di khawatirkan kita akan mendapatkan laknat daripada Allah 

Bahkan Al imam Al Ghazali mengatakan, orang yang menerima lamaran orang yang fasik kepada anaknya, maka bukan sahaja dia telah memutus hubungan silaturrahim malainkan ia juga akan merusak agamanya sendiri, jadi maka itu 

Dan nasihat juga kepada anak-anak perempuan dan anak anak lelaki yang hendak memilih pasangan musti mereka itu taat kepada orangtuanya, jangan sampai orang tua tidak merestui hubungan kemudian dia lari, meninggalkan rumah,

Karena ini kita tidak bisa membayangkan satu keluarga yang hidupnya di landasi dengan durhaka kepada orangtua, berarti kita ini sudah membangun satu rumah tangga di atas durhaka kepada orangtua,

Nah jadi apapun itu persetujuan daripada kedua orangtua itu adalah syarat utama untuk membangun suatu keluarga yang mendapatkan keberkahan daripada Allah subhanahu wa ta'ala, rahmatan, wasakinatan, ma waddatan

Kemudian Allah berfirman di dalam Alquran 


Sesungguhnya Allah atas kamu itu mengawasi / mengintai, nah tadi Allah menyuruh kita takwa, Allah mengintai, mengawasi, Allah melarang memutuskan silaturrahim, nah Allah mengintai, Allah bukan cuman menyuruh terus tidak mengawasi lagi, tidak, 

Allah menyuruh dan juga mengintai
( innallaha Kana 'alaikum rokiba)
Sesungguhnya Allah atas kamu itu mengintai, dimanapun kamu berada, dimanapun kamu bersembunyi, maka tidak akan bisa lepas daripada pengawasannya Allah subhanahu wa ta'ala 

 Nah jadi ini ayat cukup membuatkan kita takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, ini ayat cukup membuatkan kita lebih berhati-hati dalam setiap tingkah laku,  perbuatan kita, perkataan kita, karena apa? 
(innallaha Kana 'alaikum rokiba)

semoga dengan rasa itu kita bisa lebih meningkatkan takwa kita kepada Allah


















Tidak ada komentar:

More Article about this Blog