Pages

Selasa, 24 Oktober 2023

Al-Qur'an / 9. at-taubah / hlm. 16

Bismillahirrahmanirrahim, ( assuratu tasyi'atu min suwaril quran, suratut Taubah, madaniyyatun, wa 'ayatuha this'un wa 'ishrun wa mi'ah ) surat yang ke 9, dari surah-surah Alquran itu surah Taubah, 

surah Taubah ini madaniyyatun, di turunkan kepada Baginda Rasulullah sewaktu beliau di Madinah, dan ayat-ayat surah taubah ini berjumlah 129 ayat,

surat yang ke 9 ini di namakan surah at-taubah karena di dalamnya banyak bercerita tentang taubat, di antaranya firman Allah subhanahu wa ta'ala di dalam surat ini ayat 104 : 



apakah mereka tidak tahu, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubat daripada hambanya dan menerima sodakah, 

bahwasanya Allah maha menerima taubat dan ( arrahim ) dan Allah maha penyayang, demikian terjemahan daripada ayat tersebut 

Oleh para ulama tafsir di jelaskan bahwa ayat ini menggemarkan kepada orang-orang yang bermaksiat agar segera bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, Allah maha menerima taubat dan menerima sodakah

Jadi mereka berkata agar ini menggemarkan bagi mereka yang maksiat agar cepat taubat kepada Allah dan memberikan sodakah, sekaligus juga di dalam ayat ini secara tidak langsung Allah menyatakan, Allah suka hamba-hambanya yang bertaubat itu kemudian mereka itu bersedekah

Ayat ini di turunkan berkaitan dengan beberapa orang sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam di antara adalah : 

1. Ka'ab bin Malik, ka'ab bin Malik ini tidak ikut perang Tabuk, bukan karena sakit, bukan karena uzur, tapi karena malas, lalu tidak ikut perang bersama Rasulullah, sesudah Rasulullah selesai perang Tabuk beliau kembali ke Madinah, orang-orang yang tidak ikut perang itu datang kepada Rasulullah lalu kemudian meminta maaf, minta uzur bahwa mereka tidak ikut perang dengan alasan ada yang sakit, ada yang tidak punya duit, ada yang sedang menjaga orang yang sakit, macam-macam alasannya

Ka'ab bin Malik ini datang kepada Rasulullah, wahai Rasulullah minta uzur, minta maaf tidak bisa ikut perang bersama Rasulullah dengan sebab aku ni malas, terus terang dianya, jujur, nah ujar Rasulullah baiklah tunggu lah perkara km nantinya, nah inilah ka'ab bin Malik

Akhirnya ka'ab bin Malik ini di serukan oleh Rasulullah istilah kita sekarang di boikot, tidak boleh di jenguk, tidak boleh di sapa, tidak boleh di cakapi, memberi salam Tidak boleh di sahuti, bini di rumah di suruh mengungsi

sehingga ka'ab bin Malik ini seperti sendirian hidup di dalam dunia, datang ke sini di jauhi orang, datang ke sana di jauhi orang, akhirnya selama 50 malam, kalau tidak salah kemudian Allah menurunkan Wahyu kepada Rasulullah bahwa Allah sudah mengampuni dosanya, mengampuni taubatnya ka'ab bin Malik ini

Nah sesudah di kabarkan kepada ka'ab bin Malik bahwa Allah subhanahu wa ta'ala menerima taubatnya maka ka'ab bin Malik mengambil sebahagian besar hartanya dia sedekahkan, ia wakafkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam untuk kepentingan kaum muslimin dan muslimat 

nah ini maksudnya bahwa Allah menerima taubat dan Allah menerima sodakah yang ada pada ayat tadi, 

Jadi kita di anjurkan sesudah kita kita bertaubat kepada Allah maka kita bersedekah, gunanya sedekah itu apa? 

1. Bahwa kita bersyukur di beri anugerah, di beri Taufik hidayah daripada untuk taubat, kita bersyukur kepada Allah di beri jalan di beri kemampuan untuk bisa bertaubat, lalu setelah itu kita di anjurkan untuk bersedekah sebagai tanda syurkur kita atas anugerah bertaubat yang datang daripada Allah itu 

2. Sodakah yang kita berikan itu bertujuan memancing datangnya pertolongan serta Rida Allah atas taubatnya kita itu, nah ini sudah biasa di lakukan oleh para ulama-ulama terhadulu, orang-orang Sholeh terdahulu, bilamana mereka itu taubat kepada Allah, mereka melanjutkannya dengan sodakah agar taubat itu menjadikan bentuk syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala 

Alangkah baiknya lagi yang kita sedekahkan itu adalah harta benda yang menyebabkan kita maksiat atau harta benda yang menjadi saksi kita maksiat, alangkah baiknya itu yang kita sedekahkan, 

ada seseorang laki-laki, laki-laki ini sembahyang di kebun, namanya tidak di sebutkan di dalam kitab itu, laki-laki ini sembahyang di kebunnya, kemudian ketika sembahyang ia ini malah memikirkan kebunnya, macam mana kebunku yang di pikirannya saat sembahyang, akhirnya lupa dan tak ingat lagi sudah berapa rakaat sembahyang karena pikirannya asik memikirkan kebun tadi, 

Begitu selesai ia datang kepada sayyidina Utsman bin Affan wahai sayyidina Utsman aku tadi sembahyang tidak ingat lagi jumba berapa rakaat shalatku gara-gara aku memikirkan kebun ku itu, sekarang kebun itu aku wakafkan karena Allah subhanahu wa ta'ala

Nah ini karena apa, karena kebun itu lah yang menjadikan ia lalai kepada Allah subhanahu wa ta'ala, benda, harta, yang kita urus, jadi dalam mengurusi itu banyak kita melakukan maksiat, berdusta, menipu orang, sumpah palsu, macam-macam, menggibah, dan lainnya, nah benda yang menyebabkan kita melakukan perbuatan maksiat itu alangkah baiknya di sedekahkan sekaligus kita bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Benda atau barang yang menjadi saksi kita melakukan maksiat, contohnya dulu aku mabuk pakai baju kemeja yang putih ini, celana warna ini, sepatunya itu, sekarang aku hendak benar-benar bertaubat kepada Allah, ambil baju, seluar, sepatu tadi kemudian sedekahkan kepada fukoro ke masyakin, karena Allah sangat suka kalau kita ni bertaubat kepada Allah sekaligus di iringi dengan bersedekah, 

jadi harta benda yang ada pada diri kita ini yang kita pakai waktu kita malakukan perbuatan-perbuatan dosa, maksiat, itu akan menjadi saksi di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala bahwa ini orang maksiat, nah pada saat kita bertaubat kepada Allah barang-barang yang menjadi saksi itu alangkah mulianya, alangkah baiknya di sedekahkan kepada fukoro dan masyakin, karena Allah menerima sedekah itu 

Namun kalau kita tidak mampu menyedekahkan semuanya, sebahagiannya sahaja, contohnya macam aku ni punya barang macam motor/mobil ini yang sering ku gunakan untuk melakukan maksiat, melakukan dosa, terus ku jual ini jika nanti ada hasilnya sebagiannya aku sedekahkan, sisanya aku tukar dengan motor atau mobil yang baru, yang nantinya tidak menjadi saksi di hadapan Allah atas perbuatan dosa-dosa yang kita lakukan dulu

Taubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala daripada dosa itu hukumnya adalah [ wajibatun 'alal fawwur] ( wajib bersegera ) jadi tidak ada istilah menunda-nunda taubat, 

begitu kita berbuat satu dosa maka kita langsung di tuntut untuk segera bertaubat kepada Allah, kalau kita tidak bersegera maka kita akan mendapatkan dua dosa :

 1. dosa melakukan maksiat
2. ( Al israru 'alal maksiat ) terus menerus membiarkan diri kita di dalam maksiat

Jadi setiap kali kita berbuat dosa kita di tuntut untuk segera bertaubat kepada Allah, jadi tidak ada istilah bahwa kalau kita hendak taubat itu menunggu hari Jumaat, menunggi besok, atau menunggu nanti kalau sudah tua, atau menunggu nanti kalau pas waktu, nah demikian itu memberati timbangan buruk kita dan menambah dosa,

begitu kita melakukan dosa segera bertaubat, begitu kita melakukan maksiat segera bertaubat, walaupun 70 kali sehari kita berbuat dosa maka sebanyak itu juga kita segera berbuat, karena orang yang bertaubat itu sangat di sukai Allah, dan Allahpun Rida akan demikian itu

Macam-macam jenis taubat: 
1. Ada taubat minal kuffur, taubat daripada kafir, contohnya orang kristen, orang Buda, Hindu, hendak berbuat seperti apa, maka hendaklah mereka itu mengucapkan dua kalimat syahadat, Ashadu Alla ila ha illallaaaah wa Ashadu Anna Muhammadan abduhu warasulullah, 

sepanjang hidupnya akan di ampuni oleh Allah dosanya, Apakah dia pernah berzina, ia pernah merampok, ia pernah melakukan perbuatan-perbuatan dosa, ketika dia bertaubat kepada Allah dengan ucapan dua kalimat syahadat tadi maka akan di ampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala, tentu dengan sebenar-benarnya taubat, dengan niat hati yang tulus dan bersih karena Allah maka akan Allah ampuni seluruh dosanya

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : 
( Al Islam ya jubbu maaa qoblaa ) Islam itu memutus yang sebelumnya artinya dengan ia mengucapkan dua kalimat syahadat ini manusia kembali kepada fitrahnya, suci, jadi taubatnya orang-orang kafir itu nyaman, mudah dengan bersyahadat, 

2. Kemudian ada namanya taubat minarriddah, 
taubat daripada murtad, murtad ini artinya orang yang dulunya beragama Islam sekarang dia pindah kepada agama lain, nah itu di sebut murtad kalau laki-laki, kalau perempuan murtaddah, 

orang murtad ini adalah orang yang sangat hina di sisi agama, kenapa karena tidak punya harga di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, nah orang yang murtad ini kalau ia hendak taubat seperti apa, mengucap dua kalimat syahadat, 

( ma'al qodo) beserta mengqodo, contohnya sebulan dia sempat murtad, lalu balik lagi ke Islam nah selama sebulan dia mengganti, mengqodo sembahyang, apalagi kalau di lewatinya itu bulan puasa maka ia pun harus mengqodo puasanya, 

jadi selama mana, sebanyak apa yang di lewatinya pada saat ia murtad itu kemudian hendak balik ke pada Islam dan bertaubat kepada Allah maka hendaklah ia mengoqo kewajiban-kewajiban yang ia tinggalkan itu 

3. Kemudian ada lagi namanya taubat min taarkil fara'id 
Taubat meninggalkan kefarduan,
contohnya tidak sembahyang, tidak puasa, tidak bayar zakat dan lainnya, nah bagaimana taubatnya: 
1. Berhenti daripada yang demikian itu, tidak meninggalkan kefarduan lgi, tinggal lagi
2. Menyesal
3. Berjanji dalam hati tidak akan mengulangi lagi
4. Bayar hutang / mengqodo, contohnya berapa hari tidak sembahyang tu, pas taubat bayar, qodo sesuai dengan waktu-waktu shalat, misal juga kita dlu tidak puasa pas hendak bertaubat kepada Allah, maka bayar hutang puasa kita, 

4. Adalagi namanya taubat Min zulmilgrhoir, 
Taubat daripada mendzolim orang
1. Berhenti
2. Menyesal.
3. Berjanji tidak mengulang lagi 
4. Minta halal kepada orang yang di dzolimi, minta maaf, kalau ada berupa harta di pulangkan kepada orangnya, itu lah syarat-syaratnya, satu aja tidak terpenuhi maka tidak benar-benar bertaubat namanya

Contohnya ada orang ni mencuri kotak amal di masjid : 
1. Berhenti melakukan yang demikian itu 
2. Menyesal
3. Berjanji tidak mengulangi lagi
4. Balikkan uangnya berapa jumlahnya dahulu yang di ambil, nah itu namanya benar-benar bertaubat kepada Allah, taubat minzulmil grho ir, 

Jadi orang yang bertaubat dalam masalah ini yang ada sangkut pautnya dengan harta maka dia Wajib menghitung semua daripada hartanya, kira-kira berapa harta yang halal, dan berapa harta yang haram di sisihkan, maka yang haram itu di kembalikan kepada pemilik-pemiliknya, kalau dia tahu pemiliknya itu siapa, 

Semisal orang yang korupsi, mencuri uang rakyat, kemudian sekarang ia taubat, bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, maka di hitung berapa uang yang sudah di korupsinya itu, contohnya di hitung jumlahnya ada 4 juta, maka balikkan semuanya kepada negara, bila tidak Mahu membalikkan maka Allah tidak akan Mahu menerima taubatnya itu, bila Allah tidak Mahu menerima taubatnya berarti ini orang durjana, orang fasik, bila orang fasik maka matinya akan masuk neraka

5. Taubat minal Muharromad Allattii la tata 'allaku bi haqqil grho ir, ) taubat daripada yang haram-haram yang tidak bersentuhan daripada hak orang lain, contohnya seperti minum arak, makan yang haram, membuka aurat dan sebagainya yang tidak ada hubungannya dengan orang lain, maka taubatnya: 
1. Menyesal 
2. Berjanji tidak mengulangi lagi
3. Meninggalkan perbuatan itu
Selesai sudah 

Jadi kita wajib Fardu ain namanya masing-masing daripada diri kita bertaubat kemudian meninjau kebelakang, kelakuan-kelakuan dahulu, menyesal artinya, bila ada salah bertaubat kepada Allah, 

kalau ada sangkut pautnya dengan harta orang balikkan, kalau ada sangkut pautnya dengan pribadi orang, maka segera minta maaf, minta halal, supaya diri kita ini bersih daripada dosa dan kita hendak benar-benar bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala, mudah-mudahan dengan demikian itu kita mendapatkan ampunan daripada Allah

Karena allah pasti akan menerima taubat hamba-hambanya yang benar-benar hendak bertaubat dan Allah menerima sodakah 


________________

Insyaallah di lanjutkan di menit 21


Di dalam surah at-taubah ini banyak pesan yang di sampaikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala kepada kita hamba-hamba-Nya, di antaranya :

hai orang-orang yang beriman takwalah kepada Allah, dan jadilah kamu beserta dengan orang-orang yang benar, orang-orang yang jujur, nah ini lah termasuk yang di sampaikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam surah Taubah ini, 

Imam Ghazali mengatakan jujur itu ada 6, bila kita bisa dengan ke 6 ini maka kita di gelar Siddiq, orang yang sangat jujur artinya, bilamana hanya sebahagiannya sahaja kita jujur maka gelarnya Shodiq, jujur sebahagian artinya, nah yang 6 itu apa saja

1. Siddiqullisan jujur lisan, mulut, kalau jujur mulut 
( fala yata kallamu bil kazzib ) dia tidak akan berkata dusta, orang ada orang itu tidak Mahu berdusta, jujur aja orangnya maka sudah berhak dia mendapatkan gelar Shodiq, orang yang jujur, 

( 'innal 'abda la yakzibul kizz bata fayataba 'alul malaku 'anhu Maashilata mil, Min nad lima zaa 'a bihi, rowahu thirmidzi, seseorang hamba yang berdusta satu kali maka malaikat Rahmat menjauh daripadanya sepanjang, sejauh 1 mil, karena busuknya mulut orang yang berdusta itu, jujur dalam perkataan satu, 

2. Yang kedua siddequnniyyah, jujur niatnya, jujur niat ini artinya  ( falayak'malu tho'atan  illa lillahi ta'ala ) dia tidak ber amal taat kecuali Karena Allah, dia ber amal taat semata-mata karena Allah, tidak kerena yang lain, 

Allah menceritakan di dalam Alquran : 

kami memberi makan kepada kamu itu semata-mata karena Allah, tidak mengharapkan balasan dan tidak mengharapkan ucapan terima kasih, ini namanya ikhlas, ia beribadah semata-mata karena Allah, tidak karena yang lain, contohnya mencari kepentingan dirinya

Nah kalo kita lakukan yang demikian itu maka sudah dua dapat kita, siddiqullisan dan siddequnniyyah, 

3. Yang ke 3 siddequl Azam, jujur cita-cita 
( falayak tarihi "azzezun wa futurun fi azmihi Ka ayyakzima in rozaqoniyallahu malan tashaddaaQtu bi shulusihi, wa'in ak'thoniyallahu wilayatan adaltu fiha, )

jujur dalam cita-cita itu artinya adalah tidak datang kepadanya prihal lemah cita-cita, seperti contohnya dia mencita-citakan sesuatu dalam hati, bila nanti aku dapat duit ini hendak ku sedekahkan separuh atau sepertiga, niat itu, Azam itu harus kuat terus, jangan sampai ada lemahnya, 

jangan nanti tbtb terpikir aduh banyak juga kalau separuh ku sedekahkan, nah ini tidak jujur cita-citanya, selamat dalam hati katanya separuh hendak di sedekahkan, sekarang malah takut-takut, kebanyakan ini 

Nah ini tidak jujur cita-citanya, atau contohnya lagi orang yang bercita-cita bilamana nanti Allah memberikan kepadaku kekuasaan, wilayah, aku akan bersikap adil padanya, harus macam itu, jangan ada di ubah-ubah lagi kalau sudah di berikan Allah jalan dan kemudahannya, harus jujur, kalau Siddiq dalam azam sampai terus menerus jalan sesuai dengan apa yang kita cita-citakan itu

4. Yang ke 4 siddequl Wafa bil Azam, 
Jujur dalam menepati cita-cita, jujur dalam menepati janji diri, dia tidak membatalkan cita-citanya, sampai betul-betul berhasil semua apa yang di cita-citakannya itu, 

Dulu zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, semuanya sudah tahu kita kisah sa'labah yang berjanji kepada Allah, kalau aku kaya nanti seperti ini, seperti ini, seperti ini, kenyataannya sa'labah tidak jujur janjinya,

begitu dia kaya bahkan ia sampai menjadi murtad daripada Islam kanapa ia murtad karena tidak mahu, tidak sanggup membayar zakat yang terlalu banyak, berisi kambing ribuan nah itu berapa zakatnya, tidak mahu lagi berzakat

Padahal dulu waktu jadi fakir miskin banyak cita-citanya, hendak bersedekah ini, menolong orang, memberi makan fakir miskin dan lainnya, nah setelah di berikan Allah harta jadi lupa, nah ini contoh orang yang tidak menepati janjinya, tidak jujur dalam hal menepati janji, 

Ada jua yang jujur orang yang menepati janjinya, di sebutkan dalam riwayat itu Annas bin Nadhor, sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, nah Anas ini pada waktu perang badar beliau tidak ikut, jadi begitu orang selesai balik dari perang badar, diliatnya jadi tahu dia kalau orang-orang baru pulang dari perang lah kenapa aku tidak ikut katanya, 

Lalu dia bersumpah di dalam hatinya andaikata sesudah perang badar ini ada lagi perang aku pasti akan ikut dan aku akan berjuang mati-matian bersama dengan Rasulullah, kemudian terjadi setelah itu perang Uhud, begitu perang Uhud terjadi, Anas bin Nadhor berangkat bersama dengan Rasulullah dengan senjata perlengkapan perangnya, 

Akhirnya Anas bin Nadhor berperang melawan orang-orang musrik dan terbunuh, wafat di dalam perang Uhud itu, di dapati di dalam tubuhnya itu Anas bin Nadhor lebih daripada 80 tusukan dan sayatan pedang daripada orang kafir, nah begitu ianya wafat, Allah menurunkan ayat 

ini contoh laki-laki yang menepati janjinya dengan Allah subhanahu wa ta'ala dan ini adalah orang yang jujur dalam hal menepati janjinya.

Kawan-kawan kita, anggota DPR, yang kampanye, mana janjinya memakmurkan rakyat, mensejahterakan rakyat, tidak jujur dalam hal penepatan janji, mudah-mudahan kita semua bisa dalam hal menepati janji ini, dan mudah-mudahan negara kita ini di penuhi dengan orang-orang yang Shodiq, orang yang jujur dalam menepati janji, aamiin ya Allah aamiin ya rabbal 'alamin

5. Yang ke lima siddequl 'akmal, jujur perbuatan, nah jujur perbuatan ini artinya macam apa ( falayakunu dzhohiru ashlah min bathini ) tidak ada lah dzhohirnya itu lebih Sholeh daripada hatinya, 

( bal bhatinuhu ashlah min dzohiri ) bahkan hatinya lebih baik daripada dzohirnya, ini namanya jujur pada perbuatan, anggota tubuh, baik, hati harusnya lebih baik daripada itu.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdoa Allahumma za'al shariraati grhoiran min 'ala niati waz'al ala niati Sholehah, ya Allah jadikan bathinku lebih Sholeh daripada dzohirku, dan jadikan dzohirku Sholeh, 

6. Yang terakhir adalah siddequm fima koma fiddin, jujur, benar pada makom makom agama, seperti makom taubat, makom wara', makom Zuhud nah itu benar-benar, contohnya kalau kita ini sudah benar bertaubat dalam satu dosa ini maka sampai mati tidak Mahu lagi mengulangi dosa tersebut, 

nah itu jujur dalam taubatnya, ia taubat dari minum arak sampai mati tidak minum lagi, ia taubat dari dosa zina sampai mati tidak hendak lagi melakukan demikian itu, bertaubat daripada riba sampai tidak menyentuh riba lagi, 

benar-benar taubat ( siddequn fittaubah ) dan inti daripada sebenar-benarnya taubat adalah merada diri bahwa masih kotor, petanda bahwa kita benar dalam melaksanakan taubat kepada Allah 


Bertaubat daripada wara' yakni merasa diriku sangat jauh daripada sifat wara, nah ini namanya benar-benar taubat, apabila merasa diri kita benar-benar menjadi orang yang wara', orang yang juhud nah ini dusta, tidak jujur, bahaya,

Sehingga setiap sifat-sifat yang mulia, yang agung, maka hendaklah kita selalu merasa belum sanggup untuk sampai kepada sifat-sifat mulia itu, jangan kita merasa diri hebat ingatkan lah diri kita ini bahwa kita butuh bantuan serta pertolongan daripada Allah akan hal-hal yang demikian itu 

Nah bila bisa kita 6 perkara ini, jujur lisan, jujur niat, jujur cita-cita, jujur dalam azam menepati cita-cita, jujur dalam amal perbuatan baik dohir maupun batin dan jujur dalam taubat yang demikian tadi maka kita pun akan mendapat gelar Siddiq, orang yang sangat jujur, 

Karena Siddiq adalah min ahlil jannati firdaus, penghuni surga firdaus, mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kita kekuatan, kemampuan, hidayah, Taufiq dan Inayah, agar diri kita, anak istri kita, keluarga kita, keturunan kita, kaum muslimin dan muslimat  agar menjadi orang-orang yang jujur dalam segala hal ehwal kita baik yang tampa maupun yang tersembunyi di hati, aamiin ya Allah aamiin ya rabbal 'alamin 



 











Tidak ada komentar:

More Article about this Blog