Pages

Selasa, 02 Juli 2024

Al-Qur'an/ 34, surah as Saba/ hlm.41

Bismillah wal hamdulillah, pertama kita haturkan puji syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala karena sungguh begitu banyak limpahan anugerah dan Rahmat yang selalu Allah berikan kepada kita dan juga berupa Inayah dan hidayah sehingga kita bisa melanjutkan kembali pembahasan kita berkenaan tentang ilmu Allah. .

shalawat serta salam tak lupa juga kita selalu ucapankan kepada junjungan alam baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, kepada kuarga beliau, para Sabahat-sahabat beliau, zurriyat beliau, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat, semoga nanti di hari kiamat kita mendapatkan keridhaan Allah dan syafaat daripada sayyidina Muhammad shalallahu alaihi wasallam

______

( Arrabi' wassalashun min shuwaril Qur'an suratus Saba)
Yang ke 34 daripada surah-surah di dalam Alquran yaitu surah yang bernama saba, Ini surah ( makkiyyatun ) di turunkan Allah kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam sebelum hijrah daripada Mekkah ke Madinah ( wa ayatuha ) dan ayat-ayat berjumlah ( arba'un wa krhomsun ) 54 ayat

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, ( ya rasulallah, wama saba', ardhuun 'awim ro'a ) ujar laki-laki itu wahai Rasulullah apa itu Saba, apakah itu nama satu tempat, satu negeri, satu kampung, atau nama seorang perempuan 

Baginda Rasulullah menjawab ( qola laisa bi 'ardhin wala 'im ro'a ) Saba itu kata Rasulullah bukan nama bumi, bukan nama negeri, bukan nama tempat dan bukan nama perempuan, ( Walakinnahu rozulun walada'asrom minal arob, fatayamana minhum shittatun watasya'ama minhum arba'atun ) terapinya kata Rasulullah, Saba itu adalah nama seseorang laki-laki yang mempunyai anak 10 orang dari bangsa arab

Dari 10 orang itu ( fatayamana minhum shittah ) tinggal di negeri Yaman 6 orang, ( watasya'ama minhum arba'ah) dan tinggal di negeri Syam 4 orang, daripada 10 orang ini beranak Pinak, sehingga menjadi satu bangsa, menjadi satu kaum yang bernama saba, padahal Saba itu hanya asalnya adalah nama daripada nenek moyangnya seorang laki-laki yang bernama saba tadi

Kenapa surah yang ke 34 ini di namakan dengan surah Saba, para ahli tafsir mengatakan karena di dalam surat ini ada menceritakan tentang kaum Saba itu, sehingga surat ini di namai dengan surat saba, dalam ayat 15, 16 dan seterusnya Allah berfirman di dalam surah ini 


Ini sebab surah ini di namakan dengan Saba karena ada bercerita tentang kaum Saba, artinya adalah sungguh itu kaum Saba tadi di tempat mereka itu, di negeri yang mereka tempati itu merupakan tanda kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala, ada 2 kebun di sebelah kanan dan kirinya, jadi penduduk Saba ini di kelilingi oleh kebun, dari berbagai macam buah, kebun yah subur yang menghasilkan kekayaan yang melimpah ruah 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam Alquran 

Silahkan makan rezeki dari tuhan kamu

Dan janganlah engkau lupa, bersyukurlah kepada Allah subhanahu wa ta'ala 

kampung Saba itu adalah negeri yang bagus, dan Allah mengampuni terhadap mereka itu, di dalam beberapa kitab tafsir di sebutkan bahwa di kampung Saba itu, daripada sangking makmurnya, tidak ada tikus, tidak ada kutu, tidak ada lalat, nyamuk, ular dan lain sebagainya, nah ini khusus untuk penduduk Saba, dan sangking hebatnya penduduk Saba ini kalau ada orang lewat di kampung mereka, orang ini bekutu langsung mati kutunya, hanya karena udaranya itu Saba, subhanalla

Walhasil kampung Saba ini adalah bentuk tanda-tanda dari sekian banyaknya tanda kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala, menurut sebahagian ahli sejarah itu terjadi pada 800 tahun sebelum Masehi, nah ini sesuai dengan apa yang sudah di firman kan Allah subhanahu wa ta'ala di dalam alqurnul Karim, surah al-a'raf ayat 96

andaikata satu penduduk kampung atau negeri itu benar-benar beriman dan bertqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala maka Allah bukakan berkah dari langit dan berkah Berkah dari bumi, nah seperti penduduk Saba tadi, mereka beriman, mereka bertaqwa kepada Allah maka Allah berikan keberkahan dan kemakmuran kepadanya

Nah perlu juga kita belajar bersama macam mana beriman dan bertakwa penduduk satu negeri itu, beriman dan bertakwanya penduduk satu negeri itu dapat di lihat daripada 6 hal pundi, pokok satu bangsa, bila ini bagus maka boleh di katakan negeri itu beriman dan bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala

A. ( ilmul 'ulama ) Ilmu para ulama, maksudnya adalah para ulama itu menyampaikan fatwa berdasarkan ilmu, para ulama menjelaskan, menguraikan berdasarkan ilmu,
Apabila ulama-ulama itu sudah mengeluarkan fatwa, mengeluarkan hukum tidak berdasarkan akan ilmu, hanya mengandalkan nafsu, mengandalkan pendapatnya masing-masing maka ini satu tanda kehancuran satu negeri. 

Dan ulama itu mengajarkan ilmu kepada masyarakat kepada rakyat, satu negeri, mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat mereka, jangan kita mengajarkan ilmu yang membawa kemudaratan, kesesatan bagi mereka, ilmu itu Saba seperti obat, tidak semua obat itu baik untuk semua orang, nah sama seperti itu, macam ada obat yang bisa di minum untuk semua kalangan baik itu anak-anak, dewasa dan orangtua boleh minum ini obat, nah itu, macam itu juga ilmu bisa di terima untuk semua kalangan 

Sehingga para ulama itu mesti sesuai memberikan ilmu kepada yang menerimanya, jangan sembarangan mengajari ilmu kalau belum tahu orang yang menerima ilmu ini persiapannya, dasarnya macam apa 

Ada ungkapan daripada 
( Man tasawwafa wala tafaqqoha faqodtazan daqqo)
Barangsiapa yang mempunyai tasawuf tapi tidak cukup ilmu fiqihnya, itu bisa mengakibatkan zindiq seseorang, padahal ilmu tasawuf itu ilmu yang baik, tapi karena salah menyampaikan kepada orang yang belum sempurna ilmu fiqihnya akhirnya menjadi sesat 
 
Jadi kalau ulama itu benar menyampaikan hukum, menyampaikan fatwa berdasarkan ilmu maka pondasi negeri, satu tiang daripada negeri ini sudah bagus Alhamdulillah,

B. ( Adil Umara ) Adilnya pemerintah, adilnya para pejabat kita, baik pejabat yang legestalif DPR, atau eksekutif bupati, atau yudikatif polisi sampai hakimnya, nah pengertian adil secara umum adalah mengutamakan kepentingan masyarakat, mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi sendiri, jadi kalau para pemimpin-pemimpin ini pikirannya hendak mensejahterakan Rakayat lebih Utama daripada menyejahterakan pribadi dan keluarga maka ini pemimpin bisa di katakan sebagai pemimpin yang adil 

C. ( Ikhlassull 'ubbad
Ikhlasnya orang yang beribadah kepada Allah, orang yang jadi imam, ikhlas, orang yang jadi mua'adzin, ikhlas, tukang ceramah ikhlas, orang yang bersosial sedekah, ikhlas, macam ada orang yang bersedekah ni bermusim, contohnya bila musim hendak pilkada baru sibuk sosial, sedekah, menghamburkan duit, bila hendak mencalonkan diri menjadi DPR, sibuk kesana kemari bersedekah, tapi kalau dia ikhlas ya bagus tidak jadi masalah, kalau tidak ikhlas nah ini bisa merusak bangsa

D. ( 'amanatut tudzar ) Amahnya pengusaha, pedangan, jujur, di percaya, menjual beras jangan bercampur dan lain sebagainya, bila ini sudah amanah insyaallah pondasi negara kita akan baik

E. ( Siddequl 'azir ) Benarnya pegawai, buruh, jujur dalam pekerjaannya 

F. ( Iffatun nisa' ) Perempuan-perempuannya sangat menjaga diri dan kehormatannya, nah bila ke 6 hal ini ada di suatu negeri, maka negeri itu di sebut mereka beriman dan nertaq kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dan sungguh, pasti akan menjanjikan negeri itu akan di bukakan Allah berkahnya baik itu dari langit maupun dari bumi 

Sambungan ayat tadi mengatakan bahwa 

Mereka kaum Saba tadi berpaling daripada Allah subhanahu wa ta'ala, akhir-akhir nya mereka berpaling dari Allah, padahal Allah sudah berikan Rahmat, kemurahan, nikmat dan lainnya, Namun mereka berpaling, sampai Allah mengirimkan 12 nabi untuk mengurus mereka untuk kembali ke jalan Allah, tetap mereka menentang Allah subhanahu wa ta'ala 

Maka akhirnya kami kirim kepada mereka itu banjir yang sangat besar, dan kami gantungan 2 kebun yang subur tadi, di ganti Allah dengan kebun yang menghasilkan buah-buah yang pahit, pohon yang tidak ada buahnya 

Itulah balasan daripada kami dengan sebab mereka itu ingkar dengan nikmat Allah subhanahu wa ta'ala, Banjir besar yang menghancurkan mereka, firman Allah di dalam surah Al Qashas ayat 59, mengatakan bahwa 

Kami tidak akan membinasakan satu negeri, kami tidak akan menghancurkan satu kampung, kecuali penduduknya itu sendiri yang berbuat kedzoliman-kedzoliman di muka bumi Allah, macam pencurian, pembunuhan, pemalsuan, korupsi dan kejahatan lainnya sudah meraja lela pasti Allah akan turunkan azab yang akan menghancurkan kampung atau negeri itu 

Surat Saba ini sebagaimana surah-surah yang lain banyak memperingati dan memberikan petunjuk dan pedoman arahan bagi kita semua yang hendak menjadi orang yang taqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala dalam menjalani kehidupan kita di dunia ni 

Di antaranya firman Allah subhanahu wa ta'ala 

allah mengetahui sesuatu yang masuk di bumi, berapa jumlah orang yang mati di tanam di bumi hari ini, berapa bibit yang di tanam ke dalam bumi hari ini Allah tahu jumlahnya, 

Dan Allah mengetahui apa yang keluar daripada bumi, berapa ton batu bara hari ini keluar Allah tahu, berapa liter minyak yang keluar dari bumi Allah mengetahui, 

Allah mengetahui sesuatu yang turun dari langit

Dan yang naik ke langit, berapa amal seluruh manusia, jumlah yang naik ke langit, dan lain sebagainya semuanya itu jelas Allah mengetahuinya dengan terperinci 

sesungguhnya Allah maha penyayang, maha pengampun 


Berkata orang-orang kafir, tidak akan terjadi kiamat itu, 
( Qul ) Katakan wahai rasul, kiamat itu akan terjadi 

kiamat itu pasti akan ada, baik itu tanda-tanda kiamat kecil, maupun kiamat besar, ataupun kiamat perorangan, artinya kita mati nah kiamat bagi diri kita 



Karena Allah tahu dengan perkara yang ghaib, dan hanya Allah yang mengetahui hal yang demikian itu, siapapun tidak boleh kecuali kepada orang-orang yang tertentu yang di berikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala 

Nah apa perkara yang ghaib itu yang hanya Allah sahaja mengetahuinya: 

A. Mengenai hujan 
Kapan hujan turun, dimana hujan itu terjadi, jam berapa tepatnya hujan itu, berapa banyak jumlah air hujan itu yang turun, semuanya itu hanya Allah yang tahu, nah ini perkara ghaib tidak akan bisa di ketahui oleh siapa juapun

B. ( Mafhil Arham) Segumpal darah, sekumpul daging, Nutfah hanya Allah yang tahu persis ini bakal jadi laki-laki atau perempuan, tidak ada yang kecuali Allah, nah kalau orang lain yang mengatakan ini laki-laki, maka kita tidak boleh percaya, itu akan mendatangkan dosa kepada kita kalau kita percaya yang ghaib-ghaib, karena demikian itu hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang tahu 

C. ( Maza taksibu khroda' ) Apa yang engkau lakukan esok hari, artinya apakah kita besok akan melakukan perbuatan maksiat atau tidak, apakah untung berjualan atau tidak, apakah sakit atau tidak, apakah mati semuanya itu hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang tahu

D. ( Bi 'ayyi 'ardhin tamut ) Di mana engkau mati, di motor, di rumah sakit, di kamar, di jalan, hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang tahu akan hal ghoib yang demikian itu 

E. ( Kiyamussha'ah ) Kapan persisnya terjadi itu hari kiamat, hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang tahu 


Tidsk ada yang bilang daripada Allah, baik itu seberapa zarrah sekalipun baik itu di langit maupun yang ada di bumi, ataupun yang lebih kecil daripada itu atau pun yang besar, semuanya tidak akan pernah luput daripada pengetahuannya Allah, demikian itu sudah jelas ada di dalam kita yang nyata ( lauh Mahfuz ) 

Nah ini firman Allah yang menunjukkan jelas kepada kita bahwa Allah subhanahu wa ta'ala itu maha tahu, dari perkara yang sekecil-kecilnya sampai yang sebenar-benarnya, kalau kita meyakini, mengimani, bahwa Allah ini maha tahu, maka akan timbul di dalam diri kita 

A. ( Krhassyatullah ) Takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala, artinya takut hendak berbuat perkara yang tidak baik, karena jelas kita ini di saksikan oleh Allah, contoh macam maling, kalau ada polisi dia tidak berani mencuri takut di tangkap, 

Nah kalau kita mengaku beriman kepada Allah, kita mengimani bahwa Allah mengetahui segala macam tingkah laku, gerak gerik seluruh perbuatan kita, Allah mencacat semua yang kita lakukan dan akan membalas semua perbuatan yang kita kerjakan, maka seharusnya hati kita akan timbul rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala, takut kepada Allah berbuat yang tidak baik, takut mendengar, melihat, melakukan perbuatan yang buruk, 

( Wal haya minallah ) dan akan timbul perasaan malu kepada Allah subhanahu wa ta'ala, membuka aurat itu tidak baik, walaupun kita ini sendirian di tempat yang sunyi, nah ini kurang adad kepada Allah, karena kita ini sudah beriman kepada Allah yang maha melihat kita, malulah kita kepada Allah ? 

D. ( Al kifayah bi 'ilmillah ) Kita hendaknya merasa cukup akan ilmu Allah dalam hal ibadah, kita sembahyang misalnya, hati kita puas, karena Allah sudah melihat aku, jadi tidak ada urusan orang lain melihat atau tidak, yang penting Allah sudah tahu, Alhamdulillah, kita bersedekah, hati kita cukup merasa bahwa Allah sudah tahu apa yang ku kerjakan ini, urusan orang lain tidak tahu, tidak jadi masalah, sembahyang malam, tahadzut, sudah cukuplah hati kita merasa bahwa apa yang ku kerjakan ini Allah melihat,  orang lain tahu atau tidak, itu bukan urusanku, yang penting Allah sudah tahu, Alhamdulillah 

tidak sedikitpun yang akan hilang daripada penglihatan Allah subhanahu wa ta'ala, nah kalau kita sudah meyakini bahwa Allah itu maha tahu, benar-benar kita yakinkan hati kita bahwa Allah melihatku, mengawasi setiap tingkah laku dan perbuatan ku, 

nah itu sudah cukup dan akan menjadikan obat yang sangat mujarab untuk mendatangkan ikhlas beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala, maka latihlah dari kita untuk bisa mendapatkan keikhlasan beribadah itu, bersungguh-sungguh lah kita memperbaiki diri, dan mintalah senantiasa Rahmat dan petunjuk daripada Allah, mudah-mudahan kita semuaan ini bisa benar-benar menjadi orang yang taqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, aamiin ya Allah hu ya Allah 

Karna sifat yang riya ini tidak cukup dia ini sudah di lihat Allah, harus ada orang lain yang tahu, aku bersedekah tidak puas kalau hanya Allah yang tahu, lalu di umumkannya ke orang banyak, nah seharusnya kita sudah merasa cukup dengan tahunya Allah akan ibadah kita itu karena kita berikan bahwa Allah maha mengetahui maka inilah mudal utama untuk keikhlasan amal ibadah yang kita lakukan dan terhindar daripada sifat riya' yang menyebabkan amal kita tertolak oleh Allah subhanahu wa ta'ala 

Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda  ( la yakbalullahu azza wa jalla 'amalan fihi misqolu zarrotin min riya' ) Allah tidak menerima satu ibadah juapun yang disitu ada riya' walaupun itu sekecil zarrah daripada riya' itu, maka cukup aja, puas di dalam hati bahwa Allah sudah mengetahui segala macam prihal apa yang ku lakukan terkhususnya dalam hal ibadah dan amal kebaikan kepada Allah subhanahu wa ta'ala 



Tidak ada komentar:

More Article about this Blog