Pages

Selasa, 15 Oktober 2024

Alquran / 61 Surah Al Sshaaff / hlm 69

Bismillahirrahmanirrahim 

( Alhadiyyatu wassittun min shuwaril qur'an suratusshaf)
Yang ke 61, daripada surah-surah yang ada di dalam Alquran yaitu surah yang bernama as shaaf, ini surah 
(Madaniyyatun) Di turunkan Allah subhanahu wata'ala kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam sesudah hijrah dari Mekkah ke Madinah ( Wa ayatuha ) Dan ayat-ayatnya berjumlah ( Arba'a asroh) 14 ayat

Ma makna as shaaf, shaf artinya adalah barisan, rapatkan barisan ujar imam kalau hendak shalat berjamaah, ayat yang pertama sampai ke 4 adalah 

Bertasbih, mensucikan Allah sesuatu yang ada di langit dan sesuatu yang ada di bumi semuanya itu mensucikan Allah subhanahu wa ta'ala 

Dan Allah itu maha perkasa dan maha bijaksana 


Hai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengata, kenapa kalian mengucapkan, kenapa kalian berbicara sesuatu yang tidak kalian perbuat

Kemurkaan yang besar di sisi Allah, bahwa kamu itu mengata, mengucapkan, berbicara, sesuatu yang tidak kamu lakukan, 

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan Allah, mereka itu berbaris dengan rapi seolah olah mereka itu adalah bangunan yang rata dan kokoh 

Demikianlah surah ini kenapa di namakan dengan as shaaf, sesuai dengan apa yang sudah di smapaikan oleh Allah subhanahu wata'ala di dalam ayat pada surah ini 

Al imam Al qurtubi, salah seorang ahli tafsir mengatakan ayat yang kita bacakan tadi maksudnya adalah,
( tuzibu ala Kulli man'alzama nafsahu, amalan fihi tho'atun Ayyafiyabiha ) hai orang orang yang beriman kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kalian perbuatan, ujar imam Al qurtubi ini ayat mewajibkan atas tiap-tiap orang yang melazimkan akan dirinya satu perbuatan yang taat bahwa diapun, dia sendiripun menunaikan dengan taat itu, yakni maksudnya adalah 
 ( annazra, nazar) Ini ayat artinya ujar imam tentang prihal nazar

Karena banyak orang yang berbicara nazar tapi ternyata dirinya sendiri tidak di tepatinya, sehingga Allah mengatakan bahwa 

kenapa kalian mengata sesuatu yang tidak kalian perbuat, nah nazar itu apa artinya, sering kali kita bernazar, ( Huwa iltizamu muslimin, Mukallafin Rasidin, qurbatan Lam tata'ayyan ) nazar itu adalah mewajibkan seseorang muslim atas dirinya yang mana dia baligh, berakal, dia mewajibkan satu ibadah yang mana ibadah itu tidak fardhu ain atasnya, ibadah sunnat di wajibkannnya, nah itu nazar 

( imma bilafzin munazzaz ) Adakalanya bernazar itu dengan lafaz yang langsung, ( wayusamma nazrata barurin ) namanya nazar tabarrur) wa imma bilafzin mu'allaq ) ada kalanya dengan lafaz yang di gantungkan 
Wayusamma nazra muzazat, ) dinamakan nazar muzazah, 

Jadi bernazar itu adalah pertama yang musti di nazarkan itu semacam ibadah, ibadah itu pula yang tidak wajib, dan di lafazkan, di ucapkan, kalau hanya di dalam hati belum bisa di katakan nazar, tidak perlu ada saksi, yang penting di ucapkan, walaupun tidak ada orang mendengar cukup kita sendiri, yang penting di ucapkan, nah yang di nazarkan itu ibadah sunnat, 

Nah perlu juga kita belajar bersama perihal nazar ini 

1. Nazar tabarrur, nazar yang langsung contohnya 
( nazartu an ashuma yauma isnain) Aku bernazar puasa hari Senin, nah wajib baginya puasa hari tersebut, padahal puasa isnin itu kan sunnat, cuman Karna sudah di ucapkannya nazartu aku bernazar puasa hari Senin maka itu namanya nazar langsung, jadi wajib 

Atau ( aw ashumu ayyamal bith, ) Nah di ucapkan, yang tadinya sunnat maka akan berubah jadi wajib, 
dan ( 

2. Kemudian Nazar muzazah, ujarnya 
( insyafani'allah fanazartu, an'ut 'ima 'arba'ina Yatima)
jika aku di sembuhkan oleh Allah dari penyakitku maka aku bernazar memberi makan 40 orang anak yatim, nah ini bergantung namanya, menunggu sihat, tidak nazar secara langsung, nah ini nazar yang seperti ini ada sebahagian ulama mengatakan ini sunnat, bila aku sihat, di sembuhkan Allah penyakitku, maka aku bersedekah memberi makan orang fakir miskin dan anak yatim 

Nah ada yang mengatakan nazar seperti itu makhruh, kenapa bisa jadi makhruh, pelit, karena menunggu sembuh baru hendak berbuat baik kepada orang', baru hendak bersedekah dan lainnya, waktu sakit baru hendak bersedekah, itu pun menunggu sembuh, kenapa tidak pas sakit itu langsung aja bernazar hendak memberikan orang makan, kenapa hendak menunggu sehat dulu , nah nazar seperti ini itu adalah makhruh 

Nah nazar tadi adalah musti ibadah yang Sunnah, contoh lagi, kalau aku nanti lulus sekolah, dapat nilai bagus, aku hendak potong rambut, nah ini tidak wajib dilakukan nazarnya, Karna potong rambut, gundul, tu hal yang mubah, bukan sunnat, ada aja begundul itu menjadi sunnat kalau dalam 3 keadaan
1. Orang kafir masuk Islam, gundul/ botak
2. Anak anak yang baru lahir
3. Orang tahallul, manasik, daripada mengerjakan perkara umrah atau haji, nah lain daripada itu tidak sunnat, 

Contohnya lagi aku bernazar hendak sembahyang sunnat 2 rakaat di 40 masjid yang berbeda-beda, nah ini tidak wajib untuk di tepati, tapi sembahyang wajib di tepati, asal di masjid mana aja yang penting shalat 2 rakaat, kalau soal 40 masjid itu tidak ada anjuran, tidak ada perintahnya, yang penting shalat di kerjakan, 

Nah jadi ayat yang ke2 tadi ujar imam Al qurtubi ialah masalah nazar, apabila Nazar tidak di laksanakan, karena ada juga beberapa pendapat para ulama mengatakan bahwa nazar ini harus segera dilaksanakan, aku bernazar puasa hari Senin contohnya, nah malam Senin itu sudah siap-siap buat sahur dan lain sebagainya, sehingga nazar puasanya itu segera dilaksanakan, ada pula yang mengatakan kapan kapan pun tak apa-apa, yang penting sempat di lakukan puasa di hari Senin sebelum mati

Nah apabila Nazar itu tidak terlaksana sampai dia mati, 
Nah kemudian ayat yang ke 4
Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda 
( Shalasatun yadhaqullahu ilayhim, alqowmu ijastaffu 
lissholah, wal qowmu ijastaffu Li kitalin musrikin, warozulun yaqumu 'ilassholati FiZawfil lail ) ujar Baginda Rasulullah ada 3 perkara yang Allah subhanahu wa ta'ala tertawa kepada prihal ini, Allah tertawa, artinya apa, sangking gembiranya Allah, sangkin sukanya Allah kepada 3 macam kelompok ini 

1. ( Al qowmu ijastaffu lissholah ) Kaum, jemaah, bila surah mereka itu bersatu, bershaf, berbaris rapi ketika hendak shalat berjamaah, Allah suka 
2. (Wal qoum ijastaffu lil kitalin musrikin) kaum, pasungan yang sudah siap berbaris rapi hendak melawan kaum orang-orang musyrik
3. ( warozulun yaqumu 'ilassholati FiZawfil lail) Seseorang yang bangun malam semata-mata hendak beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala, orang yang istiqamah dalam ibadah di tengah malam inilah orang yang sangat di cintai Allah orang yang sangat dibanggakan oleh Allah subhanahu wata'ala 



Nah sebagaimana dengan surah surah yang lainnya, 
di dalam surah ini pun banyak sekali terdapat arahan-arahan petunjuk daripada Allah di Antara lagi, di ayat10/11

Hai orang-orang yang beriman, maukah kalian aku tunjukkan, satu perdagangan, satu perdagangan yang bisa menyelamatkan kamu daripada suatu azab yang pedih, ini ujar Allah, hai manusia mahukah kalian aku tunjukkan ada dagangan yang bisa menyelamatkan kamu daripada azab Allah yang pedih, 

Nah lalu ada orang bertanya, perdagangan apa itu ? 
( Tukminuna Billahi, warasulih ) Beriman dengan Allah dan rasulnya, dan di tambah lagi ( watujahiduna fi Sabilillah) dan berjuanglah di jalan Allah dengan harta dan diri kamu, 

Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, jikalau kamu mengetahui

( Ja'a usthman Ibnu Maz'un ila Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, datang seorang sahabat yang bernama uthman bin Maz'un kepada Baginda Rasulullah
( Faqola, ) Wahai Rasulullah ujar usthman, jika engkau memberi izin kepada saya, saya hendak menceraikan istri saya, ( watarohhabtu ) dan saya tidak mahu kawin lagi, jika engkau beri izin saya hendak memotong kemaluan supaya hilang syahwat lagi dengan perempuan, dan saya mengharamkan diri memakan daging, dan saya hendak berpuasa selama lamanya 

Nah inilah daripada kesungguhan uthman bin Maz'un untk benar-benar hendak beribadah semata-mata karena Allah subhanahu wata'ala, semua prihal dunia di tinggalkan, fakus kepada Allah subhanahu wata'ala 
( Faqola Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam) Baginda Rasulullah ( Ya uthman, innami sunnati annikah ) Nikah itu Sunnah ku wahai uthman ( walarahbaniyyata fil Islam) dan tidak ada rahbaniyyah dalam islam, hidup membujang, menyusahkan diri dalam Islam itu tidak ada 

( innama rahbaniyyatu ummati Al jihad fi Sabilillah)
Hanyasanya rahbaniyyah ummatku itu adalah berjihad di jalan Allah, ( wakrhiso'u ummati asshoum ) dan kebiri ummatku itu adalah berpuasa kalau hendak menundukkan syahwat, ( walatuharrimu toyyibati ma'ahalallahu lakum ) dan jangan sekali-kali kamu haramkan sesuatu yang baik-baik yang Allah halalkan bagi kamu, daging tu baik, Allah menghalalkan, jangan di haramkan, ( wamin sunnati ) dan setengah sunnahku wahai uthman, ( anamu wa'akum ) di malam hari itu aku ada juga tidur, ada juga aku bangun, ujar nabi
( Wa'uktiru wa'asum ) Di paginya aku kadang-kadang puasa, kadang kadang tidak puasa, nah itu sunnahku

(Famarrhoghiba aan sunnati Palaisa minni ) siapa siapa sahaja yang tidak senang dengan sunnahku, maka dia bukan tergolong daripadaku, ( qola uthman, ujar Usman, Wallahi laa waliddtu ya nabi ) demi Allah saya kepingin ya rasulallah, cuman kalau engkau tidak memberikan izin ya tidak jadi aja gapapa, padahal uthman sangat bersungguh-sungguh hendak seperti yang demikian 

( Ayyudtijaroq 'ahabbu ilallah ) Kalau demikian tidak boleh, saya hendak berdagang saja wahai Baginda Rasulullah, berusaha, nah dagangan apa yang baik,
Maka turu lah ayat Allah tadi yang mengatakan bahwa 


Adakah kalian mahu aku tunjukkan perdagangan yang menyelamatkan kalian daripada azab yang pedih

Nah ada lima macam jenis jihad fisabilillah

1. ( Al jihad fi Sabilillah bi amwalikum wa amfusikum )
Berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri nyawa, ikut berperang sekali Gus harta semuanya yang dimiliki ikut sekarang untuk keperluan kaum muslimin, seperti contohnya sahabat Baginda Rasulullah uthman bin Affan, pada waktu perang Tabuk menyumbang 950 ekor unta
dan sekian kuda dan sekian dinar, dan dirinya sendiri pun ikut berperang berjuang bersama, macam abu bakar Ash-Shiddiq juga habis semua hartanya di bagikan untuk kaum muslimin dan sekaligus ikut berjuang bersama Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam 

2. ( Al jihad bil amwal awil anfus) 
Ada orang yang berjihad bersungguh-sungguh, tapi tidak punya banyak harta, seperti Bilal bin Rabah, ikut bersama dengan Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam 
Adapula orang yang ikut berjihad cuman hartanya tapi tidak ikut berperang karna sudah tua, karna ada sakit, uzur, dan lain sebagainya tapi tetap bersungguh-sungguh menyumbangkan hartanya ikut 

3. ( Al jihadu fima Baynahu wa bayna nafsihi ) 
Jihad terhadap diri sendiri, ( wahuwa qohrun nafsih Waman 'uha 'anillazzatil muharromah, yaitu menundukkan nafsunya, mencegah nafsunya, daripada tipu daya kelezatan dunia, dosa dan maksiat, dan segala macam perkara yang di haramkan oleh Allah subhanahu wata'ala 

4. ( Kemudian al jihad Fima baynahu wabaynalkrholqi) 
Jihad antara dia dan sesama makhluk Allah, artiny
 ( Wahuwa ayyad'atam'aminhum, wayasfaka'alayhim
wayarhamahum ) jihad terhadap makhluk Allah adalah, tidak tamak dengan apa yang sudah di berikan Allah kepada mereka, dan kasih sayang dengan sesama makhluknya Allah subhanahu wata'ala, kita bisa menyayangi sesama makhluknya Allah, kita bisa tidak menghendaki, iri dengki dengan kepunyaan orang lain, nah itu jihad antara kita dengan makhluk Allah 

5. ( Al jihadu Fima baynahu wa baynaddun ya ) 
Berjihad melawan dunia, jihad melawan dunia itu macam apa ( wahuwa ayyadtakrijahazadan Lima'adihi ) dia menjadikan dunia ini bekal untuk akhiratnya, nah ini bukan hal yang mudah, orang yang menjadikan dunia yang ia miliki sebagai bekal untuk akhiratnya 

Kenapa kita takut mati, ? Karna kita tidak punya banyak persiapan untuk akhirat, hati kita tidak ada rasa takutnya kepada Allah, jelas kalau kita takut kepada Allah maka bersungguh-sungguh kita dalam mempersiapkan apa sahaja bekal yang hendak kita bawa menghadap kepada Allah subhanahu wata'ala 

Seorang laki-laki datang kepada Baginda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam ( ya rasulullah, mali'la 'uhibbul maut ) wahai Rasulullah kepada saya ini takut sekali mati, tidak setuju, ( faqola ujar Rasulullah, 'al ma'aka minal mal, ) apakah engkau punya harta? ( Qola, na'am ya rasulallah, saya ada punya harta, lalu ujar nabi 
( Qoddimmalaka ) Dahulukan harta engkau, maksudnya banyak kan bersedekah, menolong orang, wafat, membantu fakir miskin dan lain semata-mata niatkan karena Allah subhanahu wa ta'ala, karena demikian itu adalah untuk dirimu di akhirat nanti 

( Fa'inna qolbal mukmin ma 'amalihi 
Karena hati seorang itu beserta dengan hartanya 
( Inqoddamahu 'ahabba ayyalhaqoh ) Jika hartanya dia dahulukan, dia gunakan di jalan yang Allah Rida, maka demikian itu lah yang akan terjadi ( wa'in krhorofahu 'ahabba ayyattakhrollafama'ahu) tapi jikalau hartanya dia tahan, tinggal hanya di dunia, maka yang demikian itulah yang akan terjadi padanya, diapun tinggal bersama hartanya di dunia, nah kita takut mati karena kita tidak berani mendahulukan harta kita untuk jalan jalan akhirat yang di Ridai oleh Allah subhanahu wata'ala 

Contohnya orang yang berqurban di dalam dunia, nanti di akhirat akan di jadikan Allah itu sebagai tunggangan, mulai dari bangkit dari kubur, sampai ke Padang Mahsyar dan seterusnya, karena dia selalu ada berqurban di dalam dunia, nah itu lah salah satu bentuk harta yang kita kirim untuk akhirat, macam kita wafat untuk orang-orang yang sedang menuntut ilmu, belajar Alquran dan lainnya, nah itulah bekal kita di akhirat, nah demikianlah cara kita untuk mempersiapkan kematian, 

sebagai mana orang yang takut akan mati karena kurangnya iman dan persiapan bekal di akhirat, seperti itu jugalah orang yang di cintai oleh Allah subhanahu wata'ala mereka akan menunggu Kematian itu dengan hati yang tenang nyaman akan kepada Allah subhanahu wata'ala 

Didalam kitab addurrun nadzim yang di karang oleh Abdullah bin As'ad Al yamani, di sebutkan bahwa
( Mandawa ma'a qiro'atisshaaf fi safarihi 
'amina min tawariqq, min tawariqihi ila ayyarzi"a ila wathoonih ) barangsiapa yang selalu membaca surah as shaaf, 14 ayat tadi, selalu dia membaca ini surah di dalam perjalanannya, di dalam musafirnya, Allah amankan dia daripada kejahatan-kejahatan di perjalanan itu sampai lah dia balik ke tempatnya, baik itu musafir ummah atau haji, nah tiap tiap hari dia baca di perjalanan itu sampai dia ke tempat tujuan, ( 'amina min tawariqihi ) maka dia akan aman daripada hal hal yang tidak di inginkan terjadi di dalam perjalanan itu, sampai lah dia kembali lagi ke tanah airnya, tempat tinggalnya, rumahnya...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

minta doahkan, insyaallah